Monthly ArchiveApril 2018

Tiga Belas Bentuk Keresahan Dunia Saat ini Dari Aliansi Post-Rock Jogja, Buktu

admin No Comments

Tiga Belas Bentuk Keresahan Dunia Saat ini Dari Aliansi Post-Rock Jogja, Buktu

Bersama dengan nada yang gloomy nan gelap dalam debut album penuhnya, Buktu juga mengajak tiga belas seniman untuk merepresentasikan apa yang mereka suarakan melalui proyek musik ini.

Polemik kehidupan memang sulit ditebak. Terkadang memuaskan satu pihak, tapi juga dapat merugikan bahkan membuat resah segelintir orang ketika menemukannya. Maka, Buktu adalah satu kelompok dari orang-orang yang merasakan keresahan itu dengan nada-nada yang gloomy, dingin nan mendayu lewat debut album berisikan 13 (tiga belas) lagu dalam tajuk Mengeja Gejala Menjaga Dendam.

Ini adalah jejak pertama dari perjalanan Buktu sebagai kelompok musik Post-rock dari Yogyakarta. Dalam formasinya yang beranggotakan Yusak Nugroho (Drum dan Perkusi), Aryo Bhaskoro (Gitar) , Zaen Dehero Pahlevi (Gitar), Adhie Bona(Bass), dan Bodhi IA (Narator/ synthsizer) adalah nama-nama baru di ranah musik tanah air. Dan jika mendengarkan beberapa materi mereka, terselipkan sebuah narasi layaknya membaca puisi yang dibacakan oleh Bodhie IA. Namun, tak melulu demikian, keresahan pun dapat dirasakan kapanpun bahkan saat itu juga. Seperti teks yang dituliskannya, Buktu menganggapnya ini adalah sebuah teks multitafsir yang mempersilahkan pendengar merespon dengan bentuk apapun dengan karya mereka.

Serta ini juga yang disebutkan bahwa ada 13 (tiga belas) seniman yang merespon tiap lagu dalam album debut Buktu. Nama-nama seniman tersebut belum disebutkan secara tekstual oleh Buktu dalam siaran pers-nya, namun yang jelas peran seniman tersebut nantinya akan merespon keseluruhan lagu yang telah dihadirkan oleh Buktu dalam bentuk visual.

Album ini secar resmi sebenarnya telah dirilis sejak November 2017 lalu. Kala itu, Mengeja Gejala Menjaga Dendam dirilis dalam format fisik berupa cakram padat. Dan berlanjut tahun setelahnya, album ini pun dirilis dalam format digital yang telah disebarkan dibeberapa layanan musik streaming seperti Spotify, Itunes, Deezer dan lain sebagainya.

Mari Goyang “Ambilkan Gelas” Bersama Libertaria!

admin No Comments

Mari Goyang “Ambilkan Gelas” Bersama Libertaria!

Dua orang personil Libertaria berselisih untuk membuat remix lagu “Ambilkan Gelas”. Satu orang menginginkan komposisi remix yang condong ke musik bernuansa Trap EDM. Satu lagi kukuh dengan trademark Dangdut Pantura Elektronika. Sampai Akhirnya lagu itu dibuat dua versi remix

Tanggal 21 September 2017 lalu, Shaggydog merilis single berjudul “Ambilkan Gelas”. Sebuah kolaborasi mereka bersama duo Hip Hop Dangdut asal Bantul, NDX A.K.A, yang sukses menuai kritikan dan pujian. Uniknya lagu lepas yang bernuansa dangdut ini tak luput juga dari incaran musisi lain, tak terkecuali bagi Libertaria, duo dinamis besutan Marzuki Mohamad a.k.a Kill The DJ dengan Balance , yang tertarik dengan kolaborasi  lintas  genre  tersebut.

Menurutnya kolaborasi tersebut sejalan dengan sensasi ekspresi, dan eksperimen dalam bermusik yang dianut pelantun “Ora Minggir Tabrak ini”. Heruwa, vokalis Shaggydog pun tak ambil pusing, dan mempersilahkan materi tersebut, untuk diutak-atik oleh duo yang pernah merilis album Kewer-Kewer di Doggy House Records ini.

Lebih jauh, Kill the DJ menerangkan jika menurutnya ekplorasi bermusik itu bisa menembus batas-batas, termasuk genre musik. Dalam genre musik Elektronika dia menemukan kebebasan yang dicari, dan karena hal itulah Libertaria lahir. Karena menurutnya Jogja Hip Hop Foundation sendiri musiknya sudah terumuskan dengan jelas. Ditambahkan oleh Balance, jika saking bebasnya, mereka berantem karena pengen meremix lagu “Ambilkan Gelas” menurut persepsi musikal kita masing-masing. Sampai akhirnya karena hal itu lagu ini diremix jadi dua versi.

Prinsip kebebasan itulah yang menjadi alasan kenapa remix lagu “Ambilkan Gelas” versi Libertaria ada dua track. Balance menginginkan komposisi remix yang condong ke musik bernuansa Trap EDM sebagaimana lagu “Ora Minggir Tabrak” di AADC2, sementara Kill The DJ kukuh dengan trademark Dangdut Pantura Elektronika ala album Kewer-Kewer. Perselisihan pendapat ini terjadi sebelum mereka berdua beranjak tour Eropa bersama Jogja Hip Hop Foundation.

Remix Ambilkan Gelas dari Libertaria akan dirilis via toko musik digital (iTunes, Spotify, Deezer dll) dan bisa dibeli mulai 21 April 2018, bertepatan dengan event Records Store Day 2018.

Pergi ‘Menuju Galaksi Palapa’ Bersama Kelompok Penerbang Roket

admin No Comments

Pergi ‘Menuju Galaksi Palapa’ Bersama Kelompok Penerbang Roket

Penduduk di 9 kota Indonesia, akan diajak dalam ekspedisi ini dengan tingkat kecepatan penuh.

Tak salah jika di usia mudanya, KPR (Kelompok Penerbang Roket) mendapat respon cukup baik dari penggemarnya. Mulai dari mengembalikan entitas Rock/Hard Rock 70-annya, serta gebrakan-gebrakan dalam menghadirkan sebuah karya musik dalam medium yang beragama sudah bukan kali pertama mereka lakukan. Serupa dengan ekspedisi yang kini tengah mereka jalankan bersama penduduk di 9 (sembilan) kota Indonesia, bertajuk ‘Menuju Galaksi Palapa’.

‘Menuju Galaksi Palapa’ adalah sebuah film mini dokumenter hasil karya dari Hasbi Sipahutar. Proyek ini sendiri disatu sisi menceritakan tentang mini album terbaru milik KPR yang nanti akan segera dirilis. Sebelum mengerjakan proyek bersama KPR ini, Hasbi juga dikenal telah mendokumentasikan video mengenai skateboard bernama ‘Raba Cakrawala’.

Nantinya film mini dokumenter ini akan diputar di beberapa kota Indonesia, melalaui layar lebar mulai dari tanggal 16 April (Jakarta), 18 April (Balikpapan), 20 April (Depok), 24 April (Yogyakarta), 26 April (Surabaya), 1 Mei (Bekasi), 3 Mei (Makassar), 8 Mei (Medan), 10 Mei (Palembang), dan terakhir 14 Mei (Bandung) pada 2018 ini.

Sempat disebutkan dalam video teaser. Mini Album dari KPR yang beranggotakan Viki (drum), John (bass/vokal) dan Rey (gitar) itu nantinya akan cukup berbeda dari dua album yang pernah mereka keluarkan, Teriakan Bocah dan Haai. Atau mungkin juga beda dengan singlesingle yang telah mereka rilis beberapa waktu lalu. Tapi, ada satu unsur musik yang disebut bakalan ada dalam karya terbaru mereka nanti, yaitu musik Rock yang mengandung unsur Psychedelic didalamnya. Untuk lebih jelasnya masih belum tahu seperti apa, yang pasti sangat layak dinantikan.

Mocca Kembali Merilis Sesuatu Yang Menarik di RSD 2018 Nanti

admin No Comments

Mocca Kembali Merilis Sesuatu Yang Menarik di RSD 2018 Nanti

Dari segelintir band lokal yang merilis rilisan pada perayaan rilisan fisik sedunia itu nanti, tak ada yang semenarik Mocca rilisannya dan ini adalah sebuah kenangan yang patut dimiliki.

Selain musiknya yang manis, Mocca cukup kreatif dalam menyuguhkan karya musik. Terbukti mulai dari beberapa rilisan album-albumnya yang mempunyai konsep tersendiri – selaras dengan irama musik didalamnya. Dan di 2018 ini, mereka kembali menelurkan hal tersebut lewat album terbarunya yang telah berhasil dirilis oleh Lucky Me Music kemarin, Lima yang kembali dicetak dalam format kaset bertepatan denga RSD (Records Store Day) 2018 nanti.

Seperti yang disebutkan bahwa Mocca adalah band yang kreatif. Bukan cuma kaset pita yang bakal dirilis oleh band beraliran Swing Pop/Indie Pop ini, melainkan dibarengi dengan sebuah pensil. Ya, pensil ini nantinya akan dijual berbarengan dengan kaset pita album Lima ditambah dengan stiker. Secara lisan, konsep merilis kaset dengan alat tulis itu memang tak terucap langsung dari Mocca. Tapi melihat dari sisi lain, entitas kaset pita cukup akrab dengan benda satu ini dimasa kepopulerannya dulu, yang mana pensil digunakan sebagai alat rewinder memutar – memajukan durasi lagu secara manual. Dan bonus ini disebutkan dalam postingan sosial media resminya, hanya khusus diberikan kepada yang melakukan sistem pemesanan pre-order via Tokopedia yang dibandrol seharga 65.000 rupiah.

Dalam rilisan Lima versi kaset pita nanti, secara tracklist tak ada yang berubah runutannya. Namun, untuk lagu “Perahu Kertas” ada bagian yang dikemas berbeda dibandingkan dengan versi CD. Dan rilis ini nantinya akan disebar – dipasarkan secara resmi tepat pada tanggal 21 April 2018, dan yang berada di luar kota Bandung juga bisa melakukan pembelian sistem online.

 

Berlenggak-Lenggok di Lantai Dansa Bersama Daredia

admin No Comments

Berlenggak-Lenggok di Lantai Dansa Bersama Daredia

Mengambil entitas musik vintage, Daredia baru saja lepaskan sebuah video klip terbaru yang mengajak pendengarnya bersukaria bersama di lantai dansa.

Pada 2016 lalu, salah satu kelompok musik dari Jakarta Timur menonjolkan karya musik pop ber-entitas vintage sebagai karyanya, yang bertajuk Bunga & Miles. Setelah berhasil meraup kesuksesan dengan album tersebut, grup yang bernamakan Daredia itu kembali lagi di 2018 dengan membawakan single baru untuk para tuan dan nyonya yang bersukaria di lantai dansa berjudul “Lagu Dansa”.

Sesuai dengan judulnya, lagu ini mengambil tema pesta dansa di sebuah rumah. Selain berupa single, lagu ini juga disuguhkan dalam bentuk tatanan visual berupa video klip yang didalamnya menampilkan beberapa kesan antik. Mulai dari musik, wardrobe, serta jajanan khas Indonesia dimunculkan dalam video klip hasil garapan Louise Sitanggang ini. Dan menurutnya, “Dalam bayangan saya, pesta ini adalah ajang kumpul kaum muda menikmati sore yang cerah” sebagai gambaran darinya tentang video klip baru dari Daredia ini.

Sebagai pelantun akan hal tersebut, irama pop yang ramah ditonjolkan oleh Daredia. Musik pop yang mereka mainkan cenderung mengarah pada era kejayaannya Titiek Puspa, dan mempunyai sedikit sentuhan dari karya-karyanya Benyamin S. Dan dari segi lirik pun, Daredia tidak menuliskannya dengan pedanan implisit namun lebih terbuka sehingga memudahkan penikmat lokal mencerna tentang lagu ini walau tanpa harus melihat video klipnya sekalipun.

Dikatakan juga oleh Daredia, karya ini bukan cuma sebatas single saja, melainkan ada hal lain dibaliknya. Tak lain dan tak bukan, peluncuran “Lagu Dansa” ini juga sekaligus menyatakan bahwa Daredia yang beranggotakan Yosua Simanjuntak (gitar), Louise Monique Sitanggang (vokal), Aryo Wicaksono (drum), Papa Ical (bas), dan Raynhard Lewis Pasaribu (piano/keyboard) itu telah siap dengan album kedua mereka. Dan mereka juga telah memilih sembilan dari lima belas lagu hasil workshop, yang kemungkinan lagu yang dipilih tersebut akan hadir dalam album keduanya.

https://youtu.be/Iqlpxlv4YNA

Review Single : The Adams – Pelantur & Just (versi akustik)

admin No Comments

Review Single : The Adams – Pelantur & Just (versi akustik)

Intensitas yang tak hilang, tapi meningkat dari musikalitas The Adams.

Sampai saat ini, The Adams masih diakui kecanggihan dalam penulisan karya musiknya oleh segelintir penikmat musik lokal. Mulai dari album S/t berisikan satu lagu andalan mereka yang cukup populer setelah dimasukan kedalam kompilasi untuk film layar lebar Janji Joni berjudul “Konservatif” , sampai album keduanya bertajuk V2.05. Dan di 2018, tepatnya pada saat gelaran Record Store Day kemarin, kelompok musik Rock asal Jakarta itu merilis satu lagu barunya dalam format fisik berjudul “Pelantur” dan remake “Just” (versi akustik).

Di lagu barunya itu, The Adams cukup paham dengan karakter musik yang mereka mainkan. Kadar Rock-nya di lagu “Pelantur” cukup cepat, tidak melakukan banyak menambahkan unsur baru, melainkan mengembangkan apa yang telah dikeluarkan lewat karya-karya sebelumnya. Mereka pun mengakui hal tersebut, dengan menyebutkan bahwa lagu ini mempunyai energetik serupa dengan judul “Halo Benie” atau “Waiting”. Itu hanya serupa, bukan berarti sama. Buktinya saja lagu ini dinyanyikan oleh gitarisnya – personil dari WSATCC Saleh ‘Ale’ Husein, bukan Ario Hendrawan yang banyak menyumbangkan suaranya di hampir keseluruhan lagu The Adams. Dan untuk masalah lirik, The Adams juga sudah paham dengan apa yang mereka tulis dengan menggunakan kata-kata terkesan lumrah dan kerap muncul dalam kehidupan sehar-hari.

Lalu, untuk lagu keduanya “Just” (versi akustik) dinayanyikan oleh Pandu Fathoni (bass). Sosok yang juga dikenal merupakan personil dari Morfem, Zzuf, dan The Porno itu, ternyata bukan hanya piawai dalam bermain alat musik saja tapi juga bisa bernyanyi. Dan itu pula yang ditonjolkan oleh Pandu lewat lagu lawas The Adams ini. Versi awalnya, lagu ini dimainkan dengan versi full band, dan muncul pertama kali sebagai salah satu tracklist album pertamanya The Adams. Namun, lagu ini bukan hanya mengandalkan genjrengan gitar akustik saja, tapi beberapa unsur semacam biola dan ketukan drum cukup terasa dari awal hingga akhir lagunya. Sepintas mengingatkan seperti lagu “Konservatif” The Adams, tapi dengan intensi yang lebih rendah.

Di perayaan Records Store Day 2018 kemarin, dua lagu ini dicetak dalam format fisik cakram padat secara terbatas oleh Belakang Teras Records. Untuk “Just” dijadikan sebagai bonus B-side , sedangkan “Pelantur” yang merupakan single, hanya dicetak khusus untuk perayaan rilsian fisik itu saja dan tidak akan dimasukkan sebagai materi album The Adams dikemudian hari nanti. Dan semoga saja, album yang bakal dirilis oleh The Adams mampu menjawab segala harapan pendengarnya.

Menikmati Estetika Pop Modern Dari Ping Pong Club di DCDC Substereo

admin No Comments

Menikmati Estetika Pop Modern Dari Ping Pong Club di DCDC Substereo

Minggu ini, aliansi Pop baru bernama Ping Pong Club akan tampil serta mengudara untuk para pendengar kanal radio.

DCDC Substereo selalu memberi porsi musik yang beragam. Mulai dari yang sulit diterima secara khalayak luas, juga terkadang sering menampilkan musisi-musisi baru yang karyanya patut untuk didengarkan secara meluas. Alhasil, untuk poin kedua itu layak disanjungkan kepada Ping Pong Club yang akan tampil pada minggu ini, tepatnya pada tanggal 24 April 2018 di radio OZ 103.1 FM Bandung.

Ping Pong Club adalah gabungan dari empat personil berbeda. Dari segi personil, kelompok musik ini beranggotakan Rizky (gitar/ex.Goodmorning Breakfast), Hariz (vokal/Trou, Diocreatura), Fasya (synth/Curlysound), dan Satrio Adi (drum/The Schuberts, National Perks). Di awal karir, band ini telah merilis materi musiknya melalui layanan digital streaming Bandcamp berjudul “Venetian Blinds” versi single dan remix “The Countless Kisses”Musikalitas dalam materi Ping Pong Club memadukan beberapa unsur semacam Twee Pop/Indie Pop dengan kemasan Shopisti-Pop serta modernisasi dalam mengembangkan karakter musiknya.

Selama acara berlangsung, nantinya personil Ping Pong Club akan berbincang banyak mengenai terbentuknya band ini, beserta dengan agenda-agenda kedepannya bersama Eky Dharmawan dan Denny Hsu. Tak lupa juga diingatkan bahwa mereka akan tampil secara live  dan disiarkan dibawah frekuensi radio 103.1 FM milik OZ radio, yang akan dimulai pada pukul 21.00 – 23.00 WIB.

Bagi para musisi muda yang ingin karya musiknya tersebar dengan luas, dan tampil di atas panggung. DCDC mengajak para musisi tersebut untuk bergabung dalam program DCDC Shout Out!, yang mana dalam program ini sendiri memang dikhususkan untuk menjadi wadah bagi musisi-musisi muda tanah air dalam menyebarkan karya musiknya. Untuk bergabung, caranya cukup mudah, segera kunjungi situs resmi DCDC dan pilih konten Shout Out!, lalu ikuti segala ketentuannya disana. Yang nantinya, setelah tergabung, musisi tersebut berkesempatan untuk tampil di beberapa acara resmi DCDC, salah satunya seperti DCDC Substereo ini.

Musisi dan Grup Musik Indie Indonesia Ramaikan Rock In Celebes 2017

admin No Comments

Berita Acara Festival Musik Indonesia Terbaru dan Terlengkap
Setelah sukses diselenggarakan selama 7 tahun berturut-turut sejak tahun 2010, festival tahunan ini kembali digelar untuk ke-8 kalinya, yang akan membuktikan bahwa festival ini bisa dinikmati semua kalangan pecinta musik apapun, dengan menampilkan lineup lebih beragam yang selalu menarik untuk disimak.

Rock In Celebes 2017 memberikan pemahaman, bahwa yang namanya festival, esensinya jauh lebih penting bukan hanya siapa yang bermain. Festival Rock In Celebes 2017 adalah sebuah seri di mana musik dan rangkaian pendukung atau fasilitasnya dijalankan secara simultan.

Penyelenggaraan festival Rock In Celebes 2017 adalah bukti konsistensi festival tahunan yang menjadi ajang dimana terus memperkenalkan esensi event festival sebenarnya, dengan konsep festival selama lebih dari 1 hari dengan sajian musik dengan deretan line-up yang banyak dan segala program pendukung dan fasilitasnya, dimana semua orang bisa berkumpul bersama menikmati dan mendapatkan pengalaman yang berkesan.

Sebagai puncak penyelenggaraan, festival utama Rock In Celebes tahun akan diselenggarakan selama 2 hari pada 4-5 November di Pelataran Parkir Mall Phinisi Point (PIPO) Makassar, spot ikonis yang berlokasi strategis di gerbang Tanjung Bunga dengan latar Pantai Losari.

Puncak festival Rock In Celebes ke-8 ini akan menampilkan 3 panggung dengan deretan artis/band menarik untuk disimak, yaitu;

Go Ahead Stage: The Brandals, Sore, Scaller, The Hydrant, Kapital, Morfem, Elephant Kind, Black Revolver, Makassar Rocksteady, Mekuji Rasta.

Navasvara Stage: Deadsquad, Hellcrust, Frontxside, Gerram, Neurosesick, Scarhead Barricade, Cruciatus, Call Me A Dog, Tandus, Marsins.

Siasat Intimate Stage: Stars And Rabbit, Goodnight Electric, Mondo Gascaro, Jason Ranti, Tabasco, Shal, Clementine, Dheandra.

Untuk tiket masuk pertunjukan festival ini, sudah dijual dengan penawaran: ‘Early Bird’ seharga Rp. 50.000 untuk 2 hari selama 1-8 Oktober, ‘Presale’ seharga Rp. 75.000. untuk 2 hari selama 9-31 Oktober, dan ‘Normal’ seharga Rp. 100.000 untuk 2 hari selama 1-4 November. Penjualan tiket tersedia secara online di www.rockincelebes.com/tickets dan secara offline di ticket box diantaranya: Chambers Shop, Immortal Shop, God City, Lo-ving Subplaza, Issue Shop dan Undersiege Shop.

Memasuki Usia ke-40, Jazz Goes To Campus Siap Digelar November Mendatang

admin No Comments

Berita Musik Indonesia Terbaru dan Terlengkap

Sebagai wujud keberlanjutan dari idealisme untuk menyelenggarakan acara musik jazz yang dapat dinikmati seluruh kalangan, Jazz Goes To Campus terus diselenggarakan. Pada tahun ini, Jazz Goes To Campus telah memasuki usia ke-40.

Setiap tahunnya, Jazz Goes To Campus menawarkan lebih dari sekedar festival musik jazz. Acara ini telah berhasil mewadahi perkembangan bagi insan industri musik yang mendedikasikan diri mereka untuk musik jazz dan kamunitas musik melalui rangkaian program yang diselenggarakan. Rangkaian acara Jazz Goes To Campus diawali dengan JGTC Opening and Press Conference, JGTC Clinic, JGTC Competition, JGTC Roadshow to Yogyakarta, JGTC Gathering and Charity Night, JGTC Community Night, dan ditutup oleh JGTC Festival.

Di tahun 2017, The 40th Jazz Goes To Campus Festival akan diadakan pada 26 November 2017 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Selain sebagai acara musik jazz, JGTC Festival menghadirkan JGTC Jazz Museum dan JGTC Choice Award. The 40th Jazz Goes To Campus mengusung tema Jazzing Through Decades yang berangkat dari adanya kesadaran akan beragamnya ciri khas jazz dari waktu ke waktu. Bersama dengan seluruh pemangku kepentingan, The 40th Jazz Goes To Campus ingin merayakan keberagaman tersebut melalui sebuah rangkaian acara yang mengangkat kembali berbagai jenis jazz dengan penggemarnya masing-masing. Pemilihan tema Jazzing Through Decades diharapkan dapat menyuguhkan perbedaan sekaligus kesamaan atmosfir yang ditimbulkan oleh keberagaman musik jazz.

Untuk edisi empat dekade, sebagai satu-satunya festival musik jazz yang pernah menghadirkan tiga generasi musisi jazz Indonesia telah berhasil menghadirkan musisi ternama tanah air yang meliputi Fariz Rustam Munaf, RAN, Mondo Gascaro, Sentimental Moods, The Groove, Rémi Panossian Trio (French), Tomorrow People Ensemble, Sri Hanuraga Trio feat. Dira Sugandi: Indonesia Vol.1, Chaseiro, Rendy Pandugo, Tulus dan Maliq & D’Essentials.

Selain itu, The 40th Jazz Goes To Campus menghadirkan musisi jazz-funk legendaris Amerika Serikat, yaitu Al McKay ́s Earth, Wind & Fire Experience.

Tentang JGTC
Setiap tahunnya, acara Jazz Goes To Campus diadakan untuk menghadirkan acara musik jazz yang dapat dinikmati seluruh kalangan, terutama kalangan pelajar. Dari tahun ke tahun, acara Jazz Goes To Campus berhasil menghadirkan lebih dari 30 musisi domestik dan mancanegara yang tersebar di empat panggung dengan jumlah penonton mencapai 20.000 orang.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Lobby Lembaga Demografi
Gedung A / Nathanael Iskandar
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
Kampus Baru UI, Depok
Tel: Zhafran +628118124999
E-mail: jgtc.festival@gmail.com
www.jgtc-festival.com

www.000webhost.com